Kemenko Perekonomian mencatat tren positif ekonomi Indonesia di awal Triwulan IV-2026 didorong oleh inflasi terkendali dan ekspansi manufaktur.
ZONASIPRO.ID, JAKARTA – Perekonomian Indonesia mengawali Triwulan IV-2026 dengan catatan menggembirakan dan terbukti tetap resilien di tengah dinamika global. Ketahanan ekonomi nasional ini tercermin dari tiga indikator penting yang dirilis awal Oktober 2026, yaitu inflasi yang terkendali, neraca perdagangan yang terus surplus, serta kembalinya aktivitas manufaktur ke zona ekspansi.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menyampaikan bahwa inflasi September 2026 berada di angka 3,28% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka tersebut dinilai masih aman karena berada di dalam sasaran target nasional 2,5±1%.
“Komponen Volatile Food (harga pangan bergejolak) masih menjadi perhatian dengan inflasi 5,03% (yoy) akibat cuaca ekstrem dan El Nino. Pemerintah terus memperkuat koordinasi pusat dan daerah untuk menjaga pasokan serta kelancaran distribusi,” ujar Haryo dalam keterangan resminya, Rabu (7/10/2026).
Untuk menjaga daya beli dan ketahanan pangan masyarakat, pemerintah memperkuat penyaluran PKH Tahap III dan Bantuan Pangan Beras 10 kg per bulan untuk periode Oktober–Desember 2026.
Langkah ini juga didukung oleh Gerakan Pangan Murah (GPM) dan optimalisasi Cadangan Beras Pemerintah (CBP) melalui Perum Bulog.
Dari sektor eksternal, neraca perdagangan Indonesia menorehkan surplus kumulatif sebesar USD7,25 miliar sepanjang Januari–Agustus 2026. Kinerja ekspor RI ditopang oleh komoditas besi baja sebesar USD19,18 miar, CPO dan turunannya senilai USD17,75 miliar, serta batu bara sebesar USD16,58 miliar.
Di sisi lain, aktivitas impor didominasi oleh bahan baku dan barang modal sebesar 91,3% yang menunjukkan gairah investasi domestik.
Kabar baik juga datang dari sektor industri. Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Indonesia pada September 2026 melesat ke level 52,4 dari bulan sebelumnya yang sempat berada di angka 49,8. Angka di atas 50 ini menandakan bahwa aktivitas manufaktur nasional telah resmi kembali ke zona ekspansi.
Perbaikan manufaktur ini didorong oleh lonjakan pesanan baru dan pertumbuhan pesanan ekspor tercepat sejak Mei 2022. Kondisi ini secara otomatis meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan pembelian input produksi di dalam negeri.
“Ke depan, kebijakan pemerintah akan tetap diarahkan untuk menjaga daya beli, mendorong investasi dan produksi, serta meningkatkan daya saing industri nasional,” pungkas Haryo. []







